Hikmah Besar Idul Adha: Qurban Bukan Tentang Darah, Tetapi Tentang Rahmat dan Ketakwaan

PURBALINGGA | SUARA-RAKYAT.NET -– Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kembali menjadi pengingat penting bagi umat Islam tentang makna pengorbanan, ketulusan, dan kasih sayang Allah kepada manusia.

Di balik ibadah qurban yang setiap tahun dilaksanakan kaum muslimin, ternyata tersimpan hikmah besar yang sering luput dari perhatian. Peristiwa agung antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan putranya Nabi Ismail ‘alaihis salam bukan sekadar kisah tentang ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, tetapi juga menjadi penegasan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

Dalam suasana penuh kehangatan Idul Adha 1447 H, kebersamaan juga tampak dirasakan oleh Crew Halal Mart BC3 Purbalingga yang merayakan hari raya dengan nuansa kekeluargaan, silaturahmi, dan semangat berbagi kepada sesama.

Jika dilihat dari sudut pandang masyarakat modern, perintah menyembelih manusia tentu terdengar sangat asing dan mengejutkan. Namun dalam sejarah peradaban kuno, praktik pengorbanan manusia kepada dewa-dewa pernah menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Di masa itu, seseorang yang rela mengorbankan anaknya dipercaya memiliki loyalitas tertinggi kepada sesembahan mereka.

Karena itulah, ketika Nabi Ibrahim menerima mimpi untuk menyembelih Ismail, ujian tersebut bukan hanya tentang cinta seorang ayah kepada anaknya. Lebih dari itu, terdapat pesan besar tentang pemurnian ajaran tauhid.

Nabi Ibrahim dikenal sebagai nabi yang menentang kemusyrikan dan menghancurkan tradisi penyembahan berhala. Jika beliau benar-benar menyembelih anaknya, bukan tidak mungkin kaumnya akan menganggap bahwa Tuhan yang dibawa Nabi Ibrahim sama saja dengan sesembahan mereka yang meminta tumbal manusia.

Namun pada puncak ujian itu, Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya.

Nabi Ismail tidak jadi disembelih. Allah menggantinya dengan seekor hewan qurban. Dari peristiwa inilah Islam menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan darah manusia dan tidak menghendaki kedzoliman terhadap hamba-Nya.

Qurban justru menjadi simbol kasih sayang dan kepedulian sosial. Daging hewan qurban dibagikan kepada masyarakat, fakir miskin, tetangga, dan keluarga agar keberkahan dapat dirasakan bersama.

Allah SWT pun telah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukan darah ataupun daging qurban, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.

Makna mendalam inilah yang menjadi pelajaran penting bagi umat Islam di Hari Raya Idul Adha. Bahwa seluruh syariat Islam sejatinya dibangun di atas nilai rahmat, kepedulian, dan kemanusiaan.

Idul Adha bukan sekadar tradisi penyembelihan hewan, melainkan deklarasi tauhid bahwa Allah SWT tidak mendzolimi manusia, tidak membutuhkan tumbal darah manusia, dan seluruh ajaran-Nya hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

( Surya Utama )

Surya Utama
Surya Utama
Pimred Suara-Rakyat.Net at  | Web |  + posts

Halo, saya Surya Utama, Pemimpin Redaksi Suara-rakyat.Net.

Saya dipercaya untuk memimpin redaksi dalam menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi saya, jurnalisme adalah panggilan untuk menjaga kebenaran dan memberikan informasi yang bisa menjadi suara rakyat.

Tinggalkan Balasan