Purbalingga|| SUARA-RAKYAT.NET — Dalam khazanah budaya Jawa, langit tidak hanya dipandang sebagai ruang tempat benda-benda angkasa berada. Sejak dahulu, berbagai fenomena langit juga kerap menjadi bagian dari pitutur, simbol, dan perenungan para winasis dalam membaca perubahan zaman.
Salah satu istilah yang dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa adalah Lintang Kemukus. Dalam sejumlah penafsiran tradisional, kemunculannya sering dikaitkan dengan datangnya suatu perubahan besar atau peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat.
Namun, makna “gempa” dalam pitutur tersebut tidak selalu harus dipahami sebagai gempa bumi.
Dalam penafsiran simbolis, gempa dapat dimaknai sebagai guncangan terhadap tatanan kehidupan, termasuk perubahan sosial, gejolak masyarakat, maupun perubahan dalam kekuasaan.
Ada pula ungkapan Jawa yang berbunyi “ratu di perintah ratu”, yang oleh sebagian kalangan ditafsirkan sebagai simbol adanya perubahan dalam tatanan kepemimpinan atau kekuasaan. Tafsir tersebut merupakan bagian dari pemaknaan budaya dan kebatinan, sehingga tidak semestinya langsung diposisikan sebagai prediksi ilmiah mengenai suatu peristiwa politik tertentu.
Berbeda dengan Astronomi
Perkembangan ilmu pengetahuan modern memberikan penjelasan yang berbeda terhadap fenomena benda-benda langit.
Ketika masyarakat menyaksikan Bulan dan Venus tampak berdekatan di langit, misalnya, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui ilmu astronomi berdasarkan posisi relatif benda langit terhadap pengamat di Bumi.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara keyakinan kebatinan dan ilmu falakiyah/astronomi.
Ilmu falakiyah dan astronomi menggunakan pengamatan, perhitungan, serta metode ilmiah untuk menjelaskan posisi dan pergerakan benda-benda langit. Sementara penafsiran kebatinan lebih berada pada wilayah simbol, makna, filosofi, rasa batin, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Dengan demikian, ketika suatu fenomena langit dimaknai sebagai pertanda dalam tradisi Jawa, hal tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya dan cara pandang masyarakat masa lalu. Namun, tafsir tersebut tidak otomatis dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa peristiwa tertentu pasti akan terjadi.
Membaca Zaman dengan “Eling lan Waspada”
Pitutur para leluhur pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai ramalan. Di dalamnya terdapat pesan agar manusia tidak kehilangan kewaspadaan ketika menghadapi perubahan.
Fenomena langit dapat menjadi momentum untuk kembali mengingat hubungan manusia dengan alam, sekaligus mendorong masyarakat untuk melihat perubahan dengan kepala dingin.
Pesan “eling lan waspada” menjadi relevan ketika masyarakat menghadapi berbagai perubahan sosial dan politik. Manusia tidak cukup hanya melihat tanda, tetapi juga harus mampu memahami keadaan berdasarkan ilmu, informasi, pengalaman, dan pertimbangan yang matang.
Sebab, sebagaimana sebuah pitutur Jawa:
“Bejo-bejane sing eling, isih bejo sing ngerti.”
Maknanya, seberuntung-beruntungnya manusia adalah mereka yang tetap eling, sadar dan waspada; namun keberuntungan itu akan semakin kuat apabila seseorang juga ngerti, mampu memahami keadaan dan tidak mudah terbawa oleh prasangka.
Lintang Kemukus, dengan segala tafsir yang menyertainya, pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan panjang budaya Jawa dalam membaca alam dan perubahan zaman.
Langit boleh dibaca melalui ilmu astronomi, sementara maknanya dapat direnungkan melalui kearifan budaya. Yang terpenting, keduanya tidak perlu dicampuradukkan agar manusia tetap mampu membedakan antara keyakinan, simbol budaya, dan fakta ilmiah.
Penulis: Surya Utama
SUARA-RAKYAT.NET

